Nahkoda
Belantara yang kau rentas
Samudera yang kau arungi
Marah yang kau tahan
Lelah yang kau sembunyikan
Peluh yang kau seka
Tawa yang kau bagi
ah.....
Butanya aku,
Tertutup sangka kelabu
Dan kini kau hanya tersenyum lembut
Di depan pintu rumah;
Menatapku
Yang sedang menunggu kedatanganmu
kemarilah...
Biar ku cium tangan mu
Biar ku usap peluhmu
Karena ku telah siap bersamamu
Merentas belantara
Mengarung samudera
bersamamu, wahai Nahkoda
Belantara yang kau rentas
Samudera yang kau arungi
Marah yang kau tahan
Lelah yang kau sembunyikan
Peluh yang kau seka
Tawa yang kau bagi
ah.....
Butanya aku,
Tertutup sangka kelabu
Dan kini kau hanya tersenyum lembut
Di depan pintu rumah;
Menatapku
Yang sedang menunggu kedatanganmu
kemarilah...
Biar ku cium tangan mu
Biar ku usap peluhmu
Karena ku telah siap bersamamu
Merentas belantara
Mengarung samudera
bersamamu, wahai Nahkoda
Bidadari Tak Terganti
Saat ku terbangun
Secangkir kopi dan sekuntum mawar putih di sebelah kananku
Setelah air hangat mengusir beku dari tubuhku
Kau telah siapkan pakaianku
Setelah ku menyisir rambutku
Kau telah siapkan menu istimewa sarapanku
Saat ku menuju ruang makan
Kau tersenyum bersama wajah seri jundi-jundiku
Saat ku berpamit
Tak pernah lupa kau do'akan aku
Di jalan macet
Di kantor kerjaan bertumpuk
Tak jarang masalah silih berganti
Hampir kepalaku pecah dibuatnya
Aku pulang dengan segununng beban di pundak
Mengetuk pintu setelah salam
Melenggang acuh
Kau tetap tersenyum
Seperti biasa;
mandi dengan air hangat
meminum teh manis buatanmu
makan masakanmu
menatap bunga-bunga tanamanmu
bercanda dengan anak-anakku
sementara kau masih merapikan baju ke dalam lemari setelah kau setrika
mencuci piring
dan membacakan cerita pengantar tidur untuk anak-anakku
Selepas isya ku banting tubuhku karena kantuk yang tak tertahankan
Sedangkan kau
Sayup - sayup ku dengar kau masih menenangkan tangis anakku yang rewel agar tidak mengganggu tidurku
Aku bermimpi bertemu bidadari
cantik, cantik sekali
halus, tanpa aku menyentuhnya
matanya mendamaikan
dia berlari, ku kejar
sepertinya aku mengenalnya
ku raih tangannya dan dia berbalik
Aku terbangun
Ku rapatkan selimutku yang pastinya darimu
ku tatap wajahmu
Ternyata bukan mimpi
kaulah bidadari itu
Kau lah istriku
ku belai rambutmu
kau masih tenang tak bergeming,
mungkin karena lelahmu
Aku kembali pejamkan mataku
berkelana kembali mencarimu dalam mimpiku
Aku kembali terbangun tapi kau tak lagi di sampingku
ku lihat jam beker di meja kamarku
baru jam tiga...
perlahan ku buka lebar mataku
Bidadari berbalut kerudung putih
terpekur , bertafakur
bahkan tak terusik saat ku mendengkur
dengan shuhuf suci di tangannya
sesekali ku dengar suara merdunya
setelah sejenak terhenti isakan tangis
kadang sejenak senyumnya mengembang
Aku iri pada-Mu Tuhan
Kau begitu dekat dengannya
mengapa selama ini aku tak pernah menatapmu lebih jauh, wahai Bidadariku,
ingin segketika ku rengkuh dirimu, menangis dan meminta maaf padamu
tapi sekali lagi
aku tak ingin mengganggumu saat bercumbu dengan Rabb-Mu
Saat ku terbangun
Secangkir kopi dan sekuntum mawar putih di sebelah kananku
Setelah air hangat mengusir beku dari tubuhku
Kau telah siapkan pakaianku
Setelah ku menyisir rambutku
Kau telah siapkan menu istimewa sarapanku
Saat ku menuju ruang makan
Kau tersenyum bersama wajah seri jundi-jundiku
Saat ku berpamit
Tak pernah lupa kau do'akan aku
Di jalan macet
Di kantor kerjaan bertumpuk
Tak jarang masalah silih berganti
Hampir kepalaku pecah dibuatnya
Aku pulang dengan segununng beban di pundak
Mengetuk pintu setelah salam
Melenggang acuh
Kau tetap tersenyum
Seperti biasa;
mandi dengan air hangat
meminum teh manis buatanmu
makan masakanmu
menatap bunga-bunga tanamanmu
bercanda dengan anak-anakku
sementara kau masih merapikan baju ke dalam lemari setelah kau setrika
mencuci piring
dan membacakan cerita pengantar tidur untuk anak-anakku
Selepas isya ku banting tubuhku karena kantuk yang tak tertahankan
Sedangkan kau
Sayup - sayup ku dengar kau masih menenangkan tangis anakku yang rewel agar tidak mengganggu tidurku
Aku bermimpi bertemu bidadari
cantik, cantik sekali
halus, tanpa aku menyentuhnya
matanya mendamaikan
dia berlari, ku kejar
sepertinya aku mengenalnya
ku raih tangannya dan dia berbalik
Aku terbangun
Ku rapatkan selimutku yang pastinya darimu
ku tatap wajahmu
Ternyata bukan mimpi
kaulah bidadari itu
Kau lah istriku
ku belai rambutmu
kau masih tenang tak bergeming,
mungkin karena lelahmu
Aku kembali pejamkan mataku
berkelana kembali mencarimu dalam mimpiku
Aku kembali terbangun tapi kau tak lagi di sampingku
ku lihat jam beker di meja kamarku
baru jam tiga...
perlahan ku buka lebar mataku
Bidadari berbalut kerudung putih
terpekur , bertafakur
bahkan tak terusik saat ku mendengkur
dengan shuhuf suci di tangannya
sesekali ku dengar suara merdunya
setelah sejenak terhenti isakan tangis
kadang sejenak senyumnya mengembang
Aku iri pada-Mu Tuhan
Kau begitu dekat dengannya
mengapa selama ini aku tak pernah menatapmu lebih jauh, wahai Bidadariku,
ingin segketika ku rengkuh dirimu, menangis dan meminta maaf padamu
tapi sekali lagi
aku tak ingin mengganggumu saat bercumbu dengan Rabb-Mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar